Peresmian Teaching Industry Cangkang Kapsul UNAIR

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Peluang industri cangkang kapsul berbasis rumput laut yang diproduksi teaching industry Universitas Airlangga Surabaya dinilai sangat potensial di Indonesia. Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Agro Industri Kementerian Perindustrian RI, Abdul Rochim.

“Ini tidak lepas dari keberadaan rumput laut melimpah di sepanjang pesisir Indonesia,” ujarnya di sela peresmian di Kampus C Universitas Airlangga Surabaya, Kamis (1/8).

Menurut dia, peluang cangkang kapsul berbahan baku rumput laut sebagai pengganti gelatin cukup besar karena ketersediaan bahan baku yang melimpah dan kehalalannya yang terjamin.

Dari produksi tersebut, kata dia, diharapkan dapat mendorong cangkang kapsul berbahan baku rumput laut sebagai cangkang kapsul komersial.

Dia melanjutkan, produksi rumput laut Indonesia adalah yang terbesar di dunia, bahkan kontribusi Indonesia sebagai penghasil rumput laut telah diakui internasional.

“Tetapi peran produksi Indonesia dalam mengolah rumput laut menjadi produk jadi masih harus ditingkatkan,” ucapnya.

Saat ini, lanjut dia, bahan baku pembuatan cangkang kapsul adalah gelatin yang merupakan produk hidrolisis kolagen berasal dari kulit, jaringan, dan tulang sapi, kerbau, atau babi.

Selain itu, Indonesia juga masih belum memiliki produk gelatin dan masih diimpor dari Thailand Bangladesh, India, hingga Tiongkok.

Namun, cangkang kapsul berbahan bahan gelatin tidak dapat memberikan kenyamanan karena memberikan keraguan tentang kehalalannya.

Ia menyampaikan, kebutuhan cangkang kapsul nasional saat ini sebanyak enam miliar butir per tahun yang semuanya berbahan baku gelatin dari produksi domestik sebesar lima miliar butir dan impor satu miliar butir.

“Artinya, kebutuhan cangkang kapsul tersebut belum sepenuhnya dipenuhi produksi dalam negeri. Itulah mengapa peluang cangkang kapsul berbahan baku rumput laut sebagi pengganti gelatin cukup besar untuk dikembangkan di Tanah Air,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Rektor Unair Profesor Muhammad Nasih meresmikan industri cangkang kapsul berbasis rumput laut yang sanggup memproduksi tiga juta cangkang dalam sehari.

Keunggulan cangkang kapsul berbasis rumput laut selain terbuat dari tumbuhan yang terjamin kehalalannya, juga harganya yang sangat bersaing sehingga dapat mengurangi impor.

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/19/08/01/pvk2zn284-cangkang-kapsul-rumput-laut-unair-dinilai-sangat-potensial

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Teaching industri cangkang kapsul berbahan baku rumput laut yang dikembangkan Lembaga Pengembangan Bisnis dan Inkubasi (LPBI) Universitas Airlangga dengan PT Inovasi Bioproduk Indonesia diresmikan pada Kamis (1/8). Peresmian tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Rektor Unair M. Nasih, dan Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim.

Khofifah meyakini, diresmikannya teaching industri cangkang kapsul berbasis rumput laut tersebut akan mempunyai banyak keuntungan bagi masyarakat. Itu tak lain karena cangkang kapsul berbahan baku rumput laut, lebih terjamin kehalalannya, ketimbang cangkang kapsul yang menggunakan bahan baku gelatin.

“Selama ini cangkang terbuat dari gelatin yang berasal dari hewani. Jadi kehalalannya masih dipertanyakan. Sedangkan cangkang kapsul berbasis rumput laut yang diproduksi Unair ini sudah terbukti kehalalannya,” kata Khofifah di sela peresmian.

Selain faktor kehalalan, lanjut Khofifah, cangkang kapsul berbahan baku rumput laut yang dikembangkan Unair, berkategori industri bersih. Sebab tidak ada bahan yang terbuang. Sisa pengolahan cangkang kapsul berbahan baku rumput laut yang tidak digunakan, nantinya akan didaur ulang.

Rektor Unair Mohammad Nasih menjelaskan, teaching industri yang baru diresmikan tersebut menghabiskan biaya sebesar Rp 4 miliar, dari dana APBN. Area pabrik yang digunakan memiliki luas 559 meter persegi. Menurut Nasih, keunggulan cangkang kapsul berbahan baku rumput laut selain terjamin kehalalannya, juga harganya sangat bersaing .

Nasih menuturkan, bahan baku rumput laut yang digunakan, didatangkan dari Probolinggo. Unair juga sedang mengembangkan marine station di Banyuwangi untuk kemudian bisa menghasilkan rumput laut. Sehingga dari hulu dan hilir bisa diproduksi sendiri

Hadirnya teaching industri cangkang kapsul berbasis rumput laut itu, kata Nasih, membuktikan bahwa perguruan tinggi di Indonesia bisa membuat suatu produk yang mampu bersaing dengan produk asing. Kuncinya, kata dia, pemerintah bisa lebih memberi kepercayaan kepada perguruan tinggi untuk mengembangkan inovasi-inovasinya.

“Intinya kalau kita dipercaya, diberikan sedikit modal, kita bisa membuat ini dan tak perlu impor,” kata dia.

Terkait cangkang kapsul berbahan baku rumput laut yang dikembangkan, Unair telah menjalin kerja sama dengan berbabagi industri farmasi di Indonesia. Di antaranya dengan Kapsulindo dan Kimia Farma. “Kami tingkatkan MoU dari kemitraan ke penggunaan. Dunia farmasi terus kita dorong. Sehingga tiga juta butir cangkang kapsul yang kita produksi per harinya bisa terserap,” kata dia

Sumber: https://republika.co.id/berita/pvjwoe335/unair-resmikan-teaching-industry-cangkang-kapsul-rumput-laut

 

Surabaya – Universitas Airlangga (Unair) Surabaya memiliki industri cangkang kapsul berbahan rumput laut. Dalam sehari industri tersebut memproduksi tiga juta cangkang kapsul.

Penggunaan cangkang kapsul untuk obat-obatan masih dibutuhkan hingga kini. Namun, Indonesia masih mengimpor cangkang kapsul karena produksi dalam negeri kurang.

Dari datanya, dalam setahun Indonesia membutuhkan 6 miliar cangkang kapsul. Sementara itu, sebanyak 1 miliar diantaranya masih impor.

Melihat hal ini, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengembangkan produksi cangkang kapsul berbahan rumput laut. Selain memanfaatkan produksi rumput laut Indonesia yang cukup besar, cangkang kapsul ini juga diklaim 100% halal karena menggunakan bahan nabati.

Dirjen Agro Industri Kementerian Pertanian Abdul Rochim mengatakan penggunaan rumput laut sebagai bahan baku utama turut menunjang perekonomian di pesisir.

“Pengembangan ekonomi pesisir dengan rumput laut, kita memiliki pantai terpanjang kemudian iklim sangat mendukung rumput laut di Indonesia, kita punya potensi besar meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” kata Abdul sata peresmian Industri Cangkang Kapsul Berbasis Rumput Laut di Unair Surabaya, Kamis (1/8/2019).

“Produksi rumput laut Indonesia terbesar di dunia, peran kontribusi dalam produk jadi masih harus ditingkatkan. Bantuan mesin ini yang menjadi wadah pengembangan potensi cangkang rumput laut,” imbuh Abdul.

Sementara itu, Rektor Unair Prof M Nasih mengatakan harga cangkang kapsul rumput laut yang dikembangkannya ini bersaing dengan yang di pasaran. Nasih juga menambahkan penggunaan rumput laut lebih halal.

“Keistimewaan utamanya sementara dari harga saya pikir kurang lebih sama. Bahkan kita di antara Rp30, yang dari gelatin juga Rp30. Ini bisa menjadi pilihan alternatif sehingga akan mengurangi impor dan ketergantungan kita kepada luar negeri,” papar Nasih.

Melalui inovasi ini, Nasih menyebut anak bangsa bisa melakukan hal-hal istimewa jika diberikan kepercayaan dan sedikit modal. Hal ini penting dalam mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor.

“Intinya kita itu kalau dipercaya, diberikan otonomi dan kemudian diberikan sedikit saja modal, kita bisa. Jangan langsung impor lah kita bisa bikin ini itu asalkan dipercaya dan diberikan otonomi dan diberikan modal sedikit,” tegas Nasih.

Sementara itu, industri cangkang kapsul ini bisa memproduksi 3 juta cangkang dalam sehari. Nasih menambahkan dalam membangun industri ini, pihaknya memanfaatkan uang hibah sebesar Rp 5 Miliar.

“Kapasitas produksinya 3,6 juta. Ini Rp 5 Miliar aja bisa kayak gini. Jadi sebenarnya sangat murah untuk menambah kapasitasnya tetapi karena ini kira-kira dicoba, Unair bisa atau tidak bikin ini itu dan ternyata alhamdulillah kita bisa,” pungkas Nasih.
(sun/fat)

Sumber Berita: https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4648391/melihat-industri-cangkang-kapsul-dari-rumput-laut-milik-unair

 

 

 

Bahasa dan budaya telah menjadi bagian dinamis dari gerak aktivitas perabadaban. Bukan hanya persoalan sosial dan politik, melainkan ekonomi. Jika dalam persoalan sosial dan politik, bahasa dan budaya seringkali bisa menjadi jembatan dalam upaya saling memahami perbedaan kebiasaan dan perekatan solidaritas, di bidang ekonomi pengajaran bahasa asing sekaligus budaya yang melingkupinya telah mendorong perputaran ekonomi sebuah wilayah. Tidak menutup kemungkinan bahasa dan budaya Korea yang saat ini terus menjelma ke dalam Korean Wave terutama bagi generasi milenal. “Demam Korea tidak hanya menjadi peluang bagi UNAIR untuk menjajaki kerjasama bisnis dengan pihak terkait. Pertemuan antara Airlangga Global Engagement dan Pusat Bahasa Korea bbb yang menghasilkan beberapa rekomendasi perlu ditangkap sebagai kesempatan yang luas,” jelas Ketua Lembaga Pengembangan Bisnis (LPBI) UNAIR Muhammad Nafik (8/7.

Sebagaimana diketahui, Pusat Bahasa Korea bbb menawarkan kepada UNAIR untuk membuka kelas pengajaran bahasa dan budaya sekaligus membuka kesempatan bagi lulusan kelas Bahasa Korea untuk bekerja di Perusahaan Korea. Pusat Bahasa Korea bbb merupakan organisasi non pemerintah yang bergerak pada bidang pengajaran bahasa dan pertukaran budaya Korea. Saat ini BBB Korea telah mendirikan beberapa pusat bahasa di beberapa Negara ASEAN. Pusat bahasa ini mendapat dukungan dana dari perusahaan Korea dan memiliki keinginan mendirikan pusat bahasa dan budaya Korea di UNAIR melihat banyaknya perusahaan asal Korea di Surabaya dan Malang.

“LPBI sedang mengkaji dan tentu saja menyambut baik tawaran ini dengan syarat tertentu. Yang terpenting give and give dan sesuai prosedur,” tambah Koordinator Pengembangan Bisnis LPBI Arya Wirayuda.

 

 

Inovasi produk dengan memanfaatkan perkembangan teknologi merupakan kesempatan bagi pengelolaan Perguruan Tinggi Berbadan Hukum untuk memaksimalkan hilirisasi. Dengan dukungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, upaya ini diharapkan dapat berjalan sebagaimana yang direncanakan. Universitas Airlangga (UNAIR) berkomitmen dalam penyebarluasan hasil penelitian sivitas akademis yang dapat digunakan secara praktis dalam bentuk produk oleh masyarakat tersebut.

“Beberapa komunikasi dan koordinasi telah dilakukan untuk pengembangan produksi alergen, termasuk dengan Ristekdikti. UNAIR bersama Rumah Sakit Dr. Soetomo menjadikan produk ini sebagai salah satu unggulan,” jelas Wakil Rektor IV Junaidi Khotib pada rapat  koordinasi di Lembaga Pengembangan Bisnis dan Inkubasi (LPBI) (26/ 6). Dengan kerjasama ini, fasilitas produksi, data standarisasi,  dan uji klinis diharapkan dapat terlaksana sehingga pada tahun 2021 bisa diedarkan ke masyarakat. “Kami rencanakan standart produk dan pengujian dilakukan pada tahun   2019 ini,” sambung dosen Fakultas Farmasi UNAIR ini.

Pada akhir 2019 ini, UNAIR mentargetkan produksi lima varian ekstrak allergen agar dapat diselesaikan. Beberapa cara dilakukan untuk mempercepat proses realisasi ini. “Proses ini memang berurutan. Kami ingin shortcut.  Tahun ini kita bisa membuat instrumen terlebih dahulu dan buat produk yang standart,” tutup Junaidi.

Beberapa orang mungkin sudah tidak asing dengan platform bernama Varises Indonesia. Ya, Varises Indonesia merupakan sebuah StartUp yang diciptakan oleh dokter Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) bernama dr. Niko Azhari Hidayat. Varises Indonesia menjadi website rujukan serta solusi dari permasalahan penyakit varises tungkai. Tak hanya sebagai sarana informasi kesehatan, website tersebut juga menjadi media konsultasi […]